Selasa, 02 Maret 2010

Aku yang tersisa

Kini menanti senja kusendiri…
Tak satu hendak menjamu
Semua terlelap dalam khayalan sang malam
Hingga tak peduli cahaya teraniaya sepi

Menyakitkan mengingat redup hanya
sebelah nafas yang tersisa
dari segala hal yang pernah kau tinggalkan

pernah kita merangkai cerita
pernah kita berbicara tentang cinta
pernah kita memecah kebisuan asmara
tapi tak pernah kita mengucap janji setia

Palung-palung itu kini semakin terjal
memisahkan aku dari kehidupan
dan menenggelamkan mu di antara laut, senja dan kejujuran

Tak perlu lagi ku menyambut senja
Tak perlu lagi gempita ketika malam tiba
karena hanya aku yang tersisa
hanya aku,
tanpa dirimu

Aq mencintaimu..
Lebih dari segala hal yang bisa kau definisikan
tentang kata “Cinta“

Ah, percuma...
Tak pernah terfpkirkan oleh mu tentang ku
Meski hanya sedetik dari waktu yang selalu ku berikan
untukmu berpikir

Siapa?

Hujan turun…
Membahas tentang bagaimana kegersangan…
Bercerita bagaimana awan menangis…
Tapi tak pernah bercerita tentangmu…
Ironis…

Padahal selalu kuceritakan perihal kita..
Pada redupnya rembulan,
Pasir pantai atau hembusan angin…
Tapi tanpa nama kau berada disana..

nama itu membekas bertahun-tahun
berselumur dari putih bercak tak karuan hingga putih lagi
sedang aku hanya aku mendekapnya dalam maya
bila kupanggil tak kudapatkan gaungnya
bila kujamah tak kudapatkan bentuknya
seperti membentur ketiadaan
namun mewujud di hati

siapa yang sedang kubicarakan ini?
yang dalam serpihan debupun tak terangkut lagi
dia telah mengkerut, mengecil, dan nyaris tiada
tapi aku masih mengejarnya
aku merindukannya
meski rekaan atau nyata……..??????


dalam episode sebuah cerita

Camar

Dulu….
Aq berpikir kau itu miliku..hanya miliku dan akan selalu begitu hingga seterusnya..
Tapi itu sebelum waktu merenggutmu dariku, setelah itu kau menjadi milik semua orang…
Yah, sejak awal kau memang bukan milik siapa2..layaknya camar, kau terbang bebas tanpa peduli aq menatapmu di sudut pantai ini..

Demi diri sendiri, mencari jalan sendiri terbang mengepakan sayap, menembus jalur dan batas dimana kehidupan harusnya menyerah dan berhenti..
Hanya saja kau tumbuh menjadi sesuatu yang makin tak bisa kujangkau…menjauh dari apa yang kusebut logika dan pertimbangan..
Kini, bagiku kau terlalu hebat, tak bisa di bandingkan..
Dan mulai besok kau akan kembali berlari ketempat yang tidak pernahku ketahui, memulai semuanya dari awal..

Entah jadi apa kau kelak..mungkin camar tak lagi hinggap di pantai ini..tapi disana, di pasir putih dengan batu tengger di tengahnya…
Kau tau, sempat ku berfikir untuk berhenti..”Tak ada gunanya lagi kau berlari, hari ini dia pergi maka biarkan dia pergi”

Tapi “TIDAK” sesuatu dalam diriku menolak untuk berpaling dan kalah..
Ini hanya waktu..hanya masalah waktu…tak peduli berapa jauh kau pergi, tak peduli berapa lama kau tak kembali, tak kubiarkan kenyataan membiarkanku untuk berhenti menanti..
Selamat jalan cintaku yang masih belum bisa kuraih…
Akan kupastikan kemilau senja menyambut kedatanganmu kembali disisiku…

Y a , , kembali disisiku…hanya di sisiku...

Itulah cinta

Adakah tapak tangan kita berpeluh, hati
kita berdebar kencang dan suara kita
tersekat di dada?
Itu bukan Cinta, itu SUKA.

Adakah kita tidak dapat melepaskan
pandangan mata darinya?
Itu bukan Cinta, itu NAFSU.

Adakah kita menginginkannya karana kita
tahu ia ada di sana?
Itu bukan Cinta, itu KESEPIAN

Adakah kita mencintainya karana itulah
yang diinginkan semua orang?
Itu bukan Cinta, itu KESETIAAN

Adakah kita tetap mengatakan kita
mencintainya karana kita tidak ingin
melukai hatinya?
Itu bukan Cinta, itu BELAS KASIHAN.

Adakah kita mengatakan padanya
bahawa setiap hari hanya dia yang kita
fikirkan?
Itu bukan Cinta, itu DUSTA.

Adakah kita rela memberikan semua
perkara yang kita senangi untuk
kepentingan dirinya?
Itu bukan Cinta, itu KEMURAHAN HATI.

Adakah kita menjadi miliknya karana
pandangan matanya membuat hati kita
melompat?
Itu bukan Cinta, itu TERGILA-GILA.

Adakah kita memaafkan kesalahannya
karana kita mengambil berat
tentangnya?
Itu bukan Cinta, itu PERSAHABATAN
Tetapi...

Adakah kita tetap bertahan karana
campuran antara kesakitan dan
kegembiraan yang membutakan dan tak
terfahami ... menarik kita mendekati dan
tetap bersamanya?
ITULAH CINTA.<------->

Minggu, 17 Januari 2010

Sungguh, aku kangen

Aku sedang tidak ingin bercerita tentang cinta. Tapi terasa itu bohong belaka. Aku terdorong dalam lubang. Sekadar bergerak dalam kelam. Karena aku kangen padamu. Kangen yang tak kunjung padam.

Memang sudah jadi takdirku untuk selalu jatuh cinta tiap kali memikirkanmu. Jadi bayangkan, bagaimana payahnya jatuh cinta berkali-kali dalam sehari hanya gara-gara memikirkanmu? Dan sialnya, bukan pada siapa-siapa. Tapi cuma padamu. Cuma padamu! Mungkin banyak orang akan bilang kalau aku cuma mengejar bayangan senja. Tapi kau adalah senja yang nyata, dan tiap saat memikirkanmu membuatku sengsara. Aku capek. Aku capek jatuh cinta padamu. Tapi, adakah yang bisa menyelamatkanku?

Saat ini aku lewat di tempat pertama kali kita ketemu dulu, dan entah kenapa aku ingin sekali memencet nomormu, mengajakmu jalan-jalan di sore yang pasti akan membuatmu begitu nyata dalam tempias cahya. Sayangnya aku masih ingat sms-mu : "Bisakah tolong saya untuk tidak men- sms atau menelpon?Karena saya takut jatuh cinta"

Lantas berhentilah aku di sini. Duduk di halte, tempat biasa kita duduk bersama dulu, melihat mobil gemuruh di kejauhan… oh, Sungguh, aku kangen kamu....

Rabu, 18 November 2009

Maukah Kau Izinkan????

Saat ku pergi jauh, betapa aku senang bisa berjumpa denganmu lagi, setahun setelah itu. Kau adalah seserang yang paling ingin kutemui ketika sampai di kota itu. Masih ku ingat, di suatu sore kau terkejut karena kedatanganku. Padahal, kita tak pernah saling berkirim kabar semenjak aku pergi, dan menurutmu aku tak mungkin tahu alamatmu. Mudah saja, karena kamu adalah orang pertama yang kucari dan ingin kutemui. Kita saling bertukar nomor hp setelah itu. Tapi entah mengapa, suatu waktu kau berganti nomer Hp tanpa memberitahu nomer hp barumu. Aku binggung bagaimana menghubungimu. Saat pulang libur lebaran, kau tetap orang pertama yang ingin kutemui. Ku ingin bertanya kabar dan keadaanmu. Tapi, ternyata kau telah pindah. Aku mencarimu, tapi tak menemukanmu. Hingga aku pulang tanpa bertemu dengan seseorang yang sangat kurindu. Sampai 4 tahun berlalu. Aku kehilangan jejakmu. Aku tetap mencarimu dan terus berpikir tentangmu. Meskipun saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan gadis bernama Yovita, teman kerjaku (kau juga tahu ini kan?).

Saat itu musim friendster, aku mencarimu lagi, siapa tahu aku menemukanmu, meski hanya di dunia yang tak nyata. Tapi, tak jua kutemukan. Hampir tiap lebaran ku datang, singgah di bandara kota itu, dan ingin mencarimu, tapi aku tak tahu mencarimu kemana. Entahlah, kau boleh bilang aku ini kelihatan bodoh, mencari seseorang yang tak pernah lagi kutahu hatinya, begitupun jalan hidupnya. Tapi tak mengapa, walaupun mungkin hatimu berubah, tapi aku senang dapat mengetahui kau baik-baik saja. Itu sudah cukup bagiku. Jujur, tanpamu aku merasa kehilangan. Aku merasa menemukan, tanpa tahu apa yang aku cari sebenarnya (nyontek puisinya BCL ceritanya). Karena itu aku mencarimu.

Aku merasa nyaman denganmu. Merasa tentram dan menemukan diriku sendiri tanpa merasa perlu jaim atau menjadi orang yang begitu heroik. Kau selalu menerimaku apa adanya. Selalu membiarkanku menjadi diriku sendiri. Sampai pada akhirnya, aku menemukanmu di dunia maya. Aku senang, bahkan sangat girang menemukan mu lagi. Aku merasa bermimpi tapi nyata. Namun harapan itu patah lagi. Aku hancur tanpa rupa, sebentuk kenyataan pahit yang kutelan sendiri. Kau menolakku, dengan dalih yang tak begitu kupahami. Padahal aku sedang tak menyiapkan hati ini untuk patah.

Yah... aku memang tak memiliki jalan hidupmu kini. Ternyata, kehadiranku hanya mengganggumu, membuatmu muak. Aku tak tahu harus bagaimana untuk memiliki hatimu lagi. Aku, sudah berulang mengatakan aku bersungguh, kau menjawabnya dengan tertawa, seolah itu lucu. Lebih sakit lagi, kau mengganggapnya cuma cerita basi masa lalu. Lalu, tak membalas sms ku, tak menggangkat telponku, dan tak mengizinkanku menemuimu. Maaf, bila aku masih bebal juga sering mengisi wall FB mu ini, yang mungkin membuatmu muak sekali lagi. Yah... aku mungkin yang tak tahu diri. Mencoba mengais-ngais sisa cinta di hatimu, walau telah berulang kau katakan, dulu kita tak pernah punya ikatan. Tapi pernahkan kau ingat, dulu kau sendiri yang katakan bahwa ikatan hanya simbolis saja, formalitas, katamu waktu itu. Tapi aku sedang berusaha mengerti itu kini. Kau mungkin telah berubah. Atau kau telah menemukan pasangan jiwa lain, yang lebih baik dari aku, lalu kau buru-buru berdalih menyuruhku membuka hati. Begitukah? Tapi, apakah kau lupa bahwa aku tak pernah meminta hatiku untuk hanya mencintaimu. Aku hanya ditakdirkan Tuhan jatuh cinta padamu. Hanya takdir. Apa itupun salah?. Kalau itu masih benar, maka izinkanlah aku menyimpan perasaan ini padamu. Hanya menyimpan saja, sampai benar-benar aku menemukan cinta lain dan melupakanmu. Maukah kau izinkan itu?

Selasa, 10 November 2009

Pertanyaan Konyol dari mu

Kemarin…kau bertanya bagaimana hatiku. Apakah aku baik-baik saja? Pertanyaan yang membahagiakan, sekaligus terdengar konyol. Bahagia Karena kau masih peduli padaku, bahagia karena sebelumnya kau jarang bertanya bagaimana kabarku. Konyol karena kau juga tahu jawabannya. Sudah kukatakan…suatu kali, kita harus berbohong bukan karena kita ingin tapi terpaksa. Tak mungkin kukatakan aku sedang tak baik, tak mungkin aku bilang hatiku sudah hancur semenjak kuputuskan membiarkanmu berlalu. Tak mungkin… tapi apa boleh buat. Akhirnya yang keluar dari mulutku hanya “aku baik-baik saja,” sambil terus tertawa miris, menertawai diriku sendiri…

Seminggu yang lalu, aku mencoba membuka hati itu lagi untuk seseorang yang lain. Dia cantik, baik, dan mungkin sangat sempurna di mata laki-laki. Aku sudah menceritakan ini padamu bukan? …. Aku dijodohkan. Kata mereka aku sudah pantas menikah. Seminggu berlalu, aku sering bersama gadis itu. Jalan, makan, atau ngobrol apa saja. Tapi… tidak seperti yang kau bayangkan. Aku masih merasa ada seseorang yang hilang dan ingin kutemukan lagi. Seseorang yang tidak pernah memberikan kesempatan untuk dicintai. Seseorang yang cintanya begitu menyakitkan juga begitu membahagiakan. Seseorang yang masih kutungggu sampai detik ini…